Kenapa Checkout Tengah Malam Bikin Dompet Jebol? Ini Kata Psikolog

- Aktivitas belanja online tengah malam meningkat 23 persen karena kemudahan akses dan strategi midnight sale dari platform e-commerce yang memanfaatkan momen saat kontrol diri konsumen melemah
- Penelitian psikologi menunjukkan 93 persen orang menghabiskan uang lebih banyak saat kondisi mental tidak baik, dengan 40 persen cenderung berbelanja impulsif di malam hari akibat melemahnya regulasi diri dan dorongan FOMO
- Literasi finansial dan fitur pembatasan belanja dari retailer diperlukan untuk mencegah pembelian impulsif tengah malam yang dapat mengakibatkan masalah keuangan jangka panjang
, Jakarta – Pukul dua dini hari. Lampu kamar sudah lama padam. Tapi jari masih sibuk menggeser layar ponsel, menambahkan produk ke keranjang belanja. Notifikasi diskon kilat terus berdatangan. Tanpa sadar, tombol checkout sudah ditekan.
Fenomena ini bukan cerita baru. Survei John Lewis, retailer online global, mencatat lonjakan aktivitas belanja online tengah malam sebesar 23 persen pada 2018 dibanding tahun sebelumnya. Satu dari 15 transaksi justru terjadi antara pukul 00.00 hingga 06.00 pagi. Dua pertiga pembelinya adalah perempuan.
Di Indonesia, pola serupa terlihat jelas. Survei Populix 2023 menunjukkan masyarakat Indonesia lebih sering membuka aplikasi belanja di malam hari. Midnight sale menjadi momen paling ditunggu.
Psikolog Kit Yarrow memberikan penjelasan sederhana. “Alasan utama orang berbelanja tengah malam karena mereka bisa,” katanya kepada Money.
“Teknologi dan retailer menangkap keinginan konsumen. Sekarang tidak ada hambatan. Kamu bisa belanja di mana pun, bahkan di bawah selimut, dalam gelap, jam dua pagi ketika suami tertidur,” lanjutnya.
Yang jarang disadari, belanja tengah malam bukan sekadar soal kemudahan akses. Ada mekanisme psikologis yang bekerja di balik layar.
Katie Alpin dari Money and Mental Health Policy Institute menjelaskan risiko tersembunyi. Riset lembaganya mengungkap 93 persen responden mengaku menghabiskan uang lebih banyak saat kondisi mental sedang tidak baik. Sebanyak 40 persen cenderung berbelanja lebih banyak di malam hari.
Penelitian Verplanken dan Herabadi pada 2001 menegaskan temuan serupa. Pembelian impulsif sering terjadi ketika seseorang gagal mengendalikan emosi demi kepuasan sesaat. Midnight sale biasanya menyasar waktu malam, saat regulasi diri melemah karena kelelahan atau stres setelah aktivitas seharian.
Ada penjelasan lebih dalam soal melemahnya kontrol diri. Riset terbaru tentang self-control dan decision making menunjukkan hubungan signifikan keduanya. Saat kontrol diri menurun, kemampuan mengambil keputusan rasional ikut tergerus.
“Ketika Anda berjuang dengan kesehatan mental, tidur di malam hari lebih sulit dan Anda bisa lebih rentan terhadap pengeluaran impulsif,” ujar Alpin.
Tekanan psikologis Fear of Missing Out (FOMO) memperburuk kondisi. Kata-kata seperti “diskon hanya sampai jam 02.00” menciptakan kecemasan tersendiri. Penelitian Przybylski dkk pada 2013 menunjukkan FOMO memicu kecemasan jika tidak mengikuti apa yang dilakukan orang lain, termasuk dalam hal belanja.
Media sosial menjadi katalis tambahan. Konten unboxing, review produk, hingga live shopping terus mengalir di layar. Penelitian Liu dkk tahun 2020 membuktikan media sosial mendorong belanja impulsif lewat visual menarik dan kemudahan berbelanja langsung dari aplikasi.
Survei terhadap 120 mahasiswa dari lima universitas di Medan mengungkap fakta mengejutkan. Sebanyak 78 persen pernah melakukan pembelian saat midnight sale. Faktor pendorongnya: promosi besar-besaran 82 persen, kemudahan metode pembayaran 73 persen, pengaruh media sosial 58 persen.
Platform e-commerce memahami betul pola ini. Mereka merancang strategi khusus untuk menjaring pembeli tengah malam. Hitungan mundur, label “tinggal 3 lagi”, notifikasi terus-menerus, semua dirancang menciptakan urgensi.
Bukan semua belanja tengah malam berakhir dengan penyesalan. Riset menunjukkan 60 persen wanita yang sulit tidur justru merasa lebih tenang setelah memesan produk yang dibutuhkan. Aktivitas belanja bahkan membantu mereka tidur lebih cepat.
Namun batas antara kebutuhan dan keinginan sering kabur di tengah malam. Mayoritas mahasiswa membeli produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, hanya karena tergoda promosi bersifat sementara.
Alpin mengusulkan solusi dari sisi retailer. Toko online sebaiknya menyediakan fitur pembatasan belanja di malam hari melalui pengaturan akun. Atau minimal, ada opsi membatalkan pembelian di pagi harinya.
Dari perspektif konsumen, literasi finansial menjadi kunci. Membuat anggaran belanja bulanan, menghindari pembelian impulsif yang dipicu emosi sesaat, menggunakan fitur paylater dengan tanggung jawab, memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: