Dalam Pidato Kenegaraan, Trump Sebut AS Sudah Terima 80 Juta Barel Minyak dari Venezuela Pascaoperasi Militer

- Trump mengklaim AS telah menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari Venezuela sejak operasi militer AS menggulingkan Maduro pada 3 Januari 2026, pernyataan ini disampaikan dalam pidato *State of the Union* pertama di masa jabatan keduanya.
- AS melonggarkan sanksi minyak terhadap Venezuela pascaoperasi militer, dan Menteri Energi Chris Wright sudah mengunjungi fasilitas produksi minyak Venezuela bersama presiden sementara Delcy Rodriguez.
- Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun industri energinya hampir lumpuh selama 20 tahun akibat kebijakan ancaman nasionalisasi di era Maduro dan Chavez.
, Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya telah menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari Venezuela sejak operasi militer AS menggulingkan Nicolas Maduro pada awal Januari lalu. Klaim itu disampaikan Trump dalam pidato kenegaraan *State of the Union* pertamanya di periode jabatan kedua, yang berlangsung di hadapan Kongres AS di Gedung Capitol, Washington DC, Selasa (24/2/2026) waktu setempat.
“Kita baru saja menerima dari teman dan mitra baru kita, Venezuela, lebih dari 80 juta barel minyak,” kata Trump di depan para anggota parlemen.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyoroti capaian produksi energi domestik AS. Ia menyebut produksi minyak negaranya telah naik lebih dari 600.000 barel per hari, sementara produksi gas alam mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
“Produksi gas alam Amerika berada pada titik tertinggi sepanjang masa, karena saya menepati janji saya untuk terus mengebor,” ucapnya.
Pernyataan Trump soal Venezuela datang dalam konteks yang cukup dramatis. Pada 3 Januari lalu, AS melancarkan operasi militer di wilayah Venezuela dan menangkap Maduro atas tuduhan perdagangan narkoba serta sejumlah kejahatan lainnya. Berselang tidak lama, Trump melonggarkan sanksi minyak terhadap Venezuela, langkah yang dipandang sebagai upaya mendorong produksi minyak negara itu kembali bergulir.
Sinyal normalisasi hubungan kedua negara semakin terang setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengunjungi fasilitas produksi minyak Venezuela, didampingi oleh presiden sementara negara itu, Delcy Rodriguez.
Venezuela sejatinya menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia. Namun selama dua dekade terakhir, di bawah Maduro dan pendahulunya Hugo Chavez, industri minyak negara itu nyaris lumpuh. Ancaman nasionalisasi aset yang berulang kali dilontarkan dua pemimpin tersebut membuat perusahaan-perusahaan asing enggan masuk, sehingga produksi terus merosot tajam dari potensi sesungguhnya.
Yang menarik, pergeseran Venezuela dari “musuh” menjadi “mitra” terjadi begitu cepat dalam narasi Trump. Hanya dalam hitungan minggu setelah operasi militer, Washington sudah memetik hasil dalam bentuk puluhan juta barel minyak, setidaknya menurut klaim Gedung Putih. Seberapa akurat angka itu dan bagaimana mekanisme pengirimannya belum dijelaskan secara rinci.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: