Bukan Flu Biasa, Ini Virus Mematikan yang Sudah Diam-diam Masuk ke Indonesia

- Kemenkes mencatat 23 kasus positif Hantavirus jenis Seoul virus di sembilan provinsi sejak 2024 hingga Mei 2026, dengan tiga kasus berakhir kematian.
- Virus ini tidak menular antarmanusia, melainkan menyebar melalui kotoran, urine, atau air liur tikus yang terhirup bersama debu, terutama di tempat kotor dan jarang dibersihkan.
- Kemenkes mengimbau masyarakat waspada dan segera ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala mirip flu setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus.
, Jakarta – Hantavirus bukan lagi ancaman dari luar. Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi bahwa virus yang ditularkan melalui hewan pengerat ini sudah beredar di dalam negeri selama tiga tahun terakhir dan telah merenggut nyawa.
Berdasarkan pencatatan Kemenkes, sebanyak 23 kasus positif Hantavirus ditemukan di sembilan provinsi sejak 2024 hingga awal 2026. Sebanyak 20 pasien berhasil sembuh, sementara tiga lainnya tidak tertolong.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa seluruh kasus yang ditemukan di Indonesia tergolong jenis Seoul virus.
“23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal,” kata Aji Muhawarman, Jumat (8/5/2026).
Penjelasan soal jenis virus ini penting. Seoul virus berbeda dari Andes virus yang sempat ramai diperbincangkan karena kemampuannya menular dari manusia ke manusia. Aji memastikan risiko penyebaran Andes virus di Indonesia relatif rendah karena jenis itu umumnya hanya bersirkulasi di kawasan Amerika Selatan.
Kasus terbanyak tercatat pada 2025, dengan 17 temuan sekaligus. Pada 2024 hanya ada satu kasus, dan hingga Mei 2026 sudah bertambah lima kasus baru. Penyebarannya mencakup DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Hantavirus menyerang lewat paparan kotoran, urine, atau air liur tikus yang mengering dan terhirup bersama debu. Itulah mengapa mereka yang paling berisiko adalah orang-orang yang sering beraktivitas di gudang tua, loteng, bangunan kosong, area pertanian, atau lokasi konstruksi tanpa alat pelindung diri.
Gejalanya mula-mula menyerupai flu, demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan diare. Tanda bahaya baru muncul belakangan dalam bentuk sesak napas, tekanan darah drop, gangguan irama jantung, hingga cairan menumpuk di paru-paru. Dalam kasus berat, virus ini bisa menyebabkan kegagalan organ.
Angka tiga kematian dari 23 kasus mungkin terlihat kecil, tapi angka fatalitas itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Dengan sebaran yang sudah menjangkau hampir seluruh pulau besar, potensi kasus yang belum terdeteksi jauh lebih mengkhawatirkan daripada yang sudah tercatat.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menutup lubang masuk tikus di rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta selalu memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang pengerat. Sebelum membersihkan, semprotkan dulu cairan disinfektan di area yang terkontaminasi.
Siapa pun yang mengalami gejala mirip flu setelah bersentuhan dengan lingkungan banyak tikus diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: