1 Juta Sarjana Nganggur! Program Magang Nasional Cuma Serap 10%, DPR Desak Kemnaker Bertindak

- 1 Juta Sarjana Menganggur: Data BPS Februari 2025 mencatat dari 7,28 juta pengangguran terbuka, sebanyak 1,01 juta (6,2%) adalah lulusan universitas, sementara program magang nasional baru menyerap 100.000 peserta (10%)
- Link and Match Masih Stagnan: DPR menyoroti taut suai antara perguruan tinggi dan industri masih stagnan, mendorong Kemnaker berkoordinasi dengan Kemdiktisaintek untuk menyesuaikan program studi dengan kebutuhan industri
- Tantangan Employment Outlook: Menaker Yassierli akui belum ada proyeksi kebutuhan tenaga kerja 5-10 tahun ke depan yang detail, riset menunjukkan 10% posisi pekerjaan saat ini tidak ada 5 tahun lalu karena perubahan cepat industri
, JAKARTA – DPR RI menyoroti tingkat pengangguran terbuka dari kalangan lulusan sarjana yang mencapai 1 juta orang pada 2025. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) pun mengungkapkan tantangan dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Dalam rapat kerja dengan Kemnaker di Jakarta pada hari ini, Rabu (21/1/2026), Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi mempertanyakan signifikansi program magang nasional bagi lulusan baru yang menyerap 100.000 peserta atau baru 10 persen dari sarjana yang menganggur.
Dia kemudian menggarisbawahi perihal taut suai (link and match) yang stagnan antara perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Nurhadi pun menyarankan agar Kemnaker berembuk dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) agar masalah ini dapat teratasi.
“Dengan data pengangguran sarjana yang justru meningkat, artinya ini belum ada indikator keberhasilan yang nyata. Sebenarnya Pak Menteri bisa duduk bersama dengan Kemendikti, bagaimana prodi yang ada ini disesuaikan dengan kebutuhan industri dalam negeri,” kata Nurhadi.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyatakan telah berkoordinasi dengan Kemdiktisaintek. Dari diskusi yang ada, pihaknya mencermati belum adanya prospek yang mendetail perihal pasar kerja atau employment outlook.
Menurutnya, kedua kementerian telah bersepakat untuk bekerja sama terkait hal ini, sehingga perguruan tinggi di Tanah Air akan memiliki acuan mengenai nasib lulusannya ke depan.
“Jadi memang ini yang belum adalah proyeksi kebutuhan tenaga kerja 5 tahun atau 10 tahun yang datang. Kita sudah coba corat-coret, ternyata tidak mudah, begitu cepat. Riset menunjukkan 10% job title, posisi yang ada di industri sekarang, dalam 5 tahun terakhir itu enggak ada,” ungkap Yassierli.
Dia kemudian mengakui bahwa pekerjaan rumah pemerintah tidak mudah. Namun, employment outlook dinilai dapat menjadi patokan untuk mengatasi kebutuhan tenaga kerja, di samping pendataan sejenis yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Memang link and match ini menjadi PR kita dari dulu. Salah satu solusi yang ingin kita hadirkan tahun ini adalah penguatan vokasi. Peningkatan sertifikasi khusus untuk vokasi dan seterusnya,” tutur Yassierli.
Adapun, data 1 juta pengangguran tersebut sempat dibagikan Yassierli dalam acara Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2025 di Jakarta pada Rabu (2/7/2025) silam.
Data tersebut mengacu pada publikasi BPS per Februari 2025. Dari 7,28 juta orang pengangguran terbuka, sebanyak 1,01 juta atau 6,2 persen di antaranya merupakan lulusan universitas.
Selain lulusan universitas, data tersebut juga mengungkap sebanyak 177.399 lulusan diploma merupakan pengangguran. Sementara itu, lulusan SD dan SMP menyumbang angka pengangguran 2,42 juta orang, sedangkan pengangguran lulusan SMA mencapai 2,03 juta dan pengangguran lulusan SMK sebanyak 1,63 juta orang.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: