TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

14 April 2026

Cari berita

Meja Perundingan Bubar, Trump Langsung Ancam Tutup Selat Hormuz dan Gebuk Iran

Poin Penting (3)
  • Perundingan damai AS-Iran di Islamabad, Pakistan gagal tanpa kesepakatan, memicu Trump memerintahkan Angkatan Laut AS memblokade Selat Hormuz mulai Senin (13/4) pukul 14.00 GMT.
  • Blokade AS mencakup seluruh kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman, disertai ancaman tindakan militer terhadap pihak yang membahayakan kapal AS.
  • Iran menolak tunduk dan menegaskan selat tetap dalam kendali penuh mereka, dengan Ketua Parlemen Ghalibaf memperingatkan AS akan mendapat "pelajaran yang lebih besar" jika tetap melanjutkan ancamannya.

Resolusi.co, Washington – Peluang damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, tutup tanpa hasil. Presiden Donald Trump langsung bereaksi keras. Angkatan Laut AS diperintahkan memblokade Selat Hormuz, jalur laut tempat sekitar 20 juta barel minyak dunia biasanya melintas setiap harinya.

Perintah itu Trump umumkan melalui platform Truth Social miliknya pada Minggu (12/4/2026). Nada pernyataannya tidak menyisakan ruang interpretasi.

“Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz,” kata Trump.

Ia juga memperingatkan siapa pun yang berani menembak ke arah pasukan atau kapal dagang AS.

“Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami, atau ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur,” tegasnya.

Ketegangan ini bukan tiba-tiba. Lebih dari enam minggu sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Teheran membalas dengan menutup Selat Hormuz, meski masih membuka jalur bagi kapal dari negara-negara yang dianggap bersahabat. Blokade Iran itu memicu kekacauan rantai pasok energi global dan mendorong harga minyak melonjak.

Dari tekanan ekonomi itulah gencatan senjata dua minggu kemudian disepakati. Kedua pihak duduk di meja perundingan di Islamabad. Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun hasilnya nihil. AS dan Iran saling menuding sebagai penyebab kegagalan.

Setelah kembali ke Teheran dari Islamabad, Ghalibaf berbicara kepada wartawan dengan nada yang tidak kalah keras.

“Jika mereka melawan, kami akan melawan. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun, biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi sehingga kami dapat memberikan mereka pelajaran yang lebih besar,” kata Ghalibaf kepada wartawan, seperti dilansir Al Arabiya.

Sementara itu, Komando Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menegaskan otoritas Teheran atas selat tersebut tidak bisa diganggu gugat.

“Seluruh lalu lintas berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata. Musuh akan terjebak dalam pusaran mematikan di Selat jika mereka melakukan langkah yang salah,” ujar komando angkatan laut Garda Revolusi.

Di sisi AS, Komando Pusat mengumumkan bahwa blokade akan mulai diberlakukan pada pukul 14.00 GMT hari Senin (13/4), mencakup seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab maupun Teluk Oman. Dua kapal perang AS disebut telah melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari operasi pembersihan ranjau.

Trump juga menyinggung kemungkinan keterlibatan negara lain dalam operasi ini, meski tidak merinci lebih jauh. Yang ia tegaskan: Iran tidak boleh lagi mengendalikan atau memungut biaya dari lalu lintas di perairan itu.

Yang menarik dari eskalasi ini adalah polanya. Setiap upaya diplomasi justru diikuti ancaman yang lebih besar dari kedua belah pihak. Islamabad seharusnya menjadi titik deeskalasi, tetapi yang terjadi sebaliknya kedua negara pulang dengan posisi yang lebih keras dari sebelum mereka datang.