Rupiah Makin Terpuruk, Analis Ungkap Penyebab Kurs Mendekati Rp17.000 per Dolar AS

- Rupiah diproyeksikan melemah ke Rp16.950-Rp16.980 per dolar AS pada 20 Januari 2026 akibat tekanan internal dari defisit anggaran yang mendekati batas 3% dan penerimaan pajak yang belum menguat signifikan
- Ketidakpastian global dari ancaman tarif Trump 10-25% terhadap Eropa memicu kehati-hatian investor terhadap mata uang negara berkembang, sementara lemahnya konsumsi domestik China membebani prospek ekspor Asia
- Bank Indonesia terus intervensi pasar melalui mekanisme DNDF dan NDF serta diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat pekan ini, didukung rencana pengetatan pengelolaan devisa ekspor
, JAKARTA – Mata uang rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp16.950 hingga Rp16.980 terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1/2026). Proyeksi ini muncul di tengah tekanan yang berasal dari kondisi internal maupun eksternal.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah ditutup merosot 0,40 persen atau setara 68 poin menuju posisi Rp16.995 per dolar AS pada Senin (19/1/2026). Pada waktu bersamaan, indeks dolar AS justru mengalami pelemahan 0,19 persen ke level 99,20.
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures yang juga dikenal sebagai pengamat ekonomi, menyebutkan bahwa tekanan utama terhadap rupiah bersumber dari faktor domestik. Kekhawatiran muncul terkait kesehatan fiskal Indonesia setelah angka defisit anggaran tahun lalu hampir menyentuh batas maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Sementara itu, penerimaan pajak belum menampakkan tanda-tanda penguatan yang signifikan untuk memperbaiki situasi fiskal.
“Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (19/1/2026).
Dari sisi eksternal, meskipun indeks dolar AS tidak menguat hari ini, ancaman pengenaan tarif oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Trump mengancam akan memberlakukan tarif berkisar 10 persen hingga 25 persen terhadap negara-negara Eropa.
Situasi tersebut telah memicu kehati-hatian para investor dalam menempatkan dana pada mata uang negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi China yang tercatat di angka 5,0 persen memberikan sentimen yang beragam bagi pasar. Meskipun target pemerintah China tercapai, lemahnya konsumsi dalam negeri di Tiongkok tetap menjadi faktor pemberat bagi prospek ekspor negara-negara mitra dagang di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Ibrahim menyatakan bahwa Bank Indonesia (BI) terus melakukan langkah intervensi di pasar valuta asing untuk menahan tekanan pada rupiah. Intervensi dilakukan melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF).
Selain itu, BI juga diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.
“Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah,” pungkas Ibrahim.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1/2026), nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
Update pada pukul 15.09 WIB menunjukkan rupiah ditutup melemah 0,02 persen atau 3 poin menuju level Rp16.958 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar juga melemah 0,65 persen ke posisi 98,75.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: