Iran Tolak Klaim Operasi Pembersihan Ranjau AS di Selat Hormuz, Negosiasi di Islamabad Masih Buntu

- AS mengklaim dua kapal perusak mereka berhasil menyisir ranjau laut Iran di Teluk Arab dan membuka jalur perdagangan baru, sementara militer Iran langsung membantah seluruh klaim tersebut.
- Negosiasi diplomatik AS-Iran di Islamabad, pertemuan bilateral tertinggi sejak 1979, masih terhambat karena perbedaan soal kompensasi perang dan status program nuklir Iran.
- Konflik yang meletus akhir Februari 2026 ini telah memicu krisis energi global, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas setiap harinya di Selat Hormuz.
, Jakarta – Di atas peta, Selat Hormuz hanyalah jalur sempit di antara Iran dan Oman. Tapi dalam hitungan minggu terakhir, perairan itu berubah menjadi arena adu klaim dua kekuatan yang sama-sama tidak mau terlihat kalah.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat, CENTCOM, menyatakan dua kapal perusak mereka, USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy, telah bergerak melintasi kawasan Teluk Arab untuk membersihkan ranjau laut yang sebelumnya dipasang oleh pihak Iran. Langkah ini disebut Washington sebagai bagian dari upaya membuka kembali arus perdagangan energi global yang sempat terhenti.
“Hari ini, kami memulai proses pembangunan jalur lintasan baru, dan kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong aliran bebas perdagangan,” ujar Laksamana AS Brad Cooper.
Teheran tidak membiarkan klaim itu berjalan tanpa respons. Markas pusat militer Iran, Khatam al-Anbiya, langsung mengeluarkan pernyataan yang sepenuhnya membantah narasi Washington.
“Klaim komandan CENTCOM mengenai pendekatan dan masuknya kapal-kapal Amerika ke Selat Hormuz dibantah keras,” tegas juru bicara militer Iran.
“Inisiatif untuk lintasan dan pergerakan kapal apa pun ada di tangan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran,” tambahnya.
Dua pernyataan yang saling bertolak belakang ini muncul tepat ketika negosiasi tingkat tinggi sedang berlangsung di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance duduk satu meja dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pertemuan yang disebut sebagai komunikasi bilateral paling substansial antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran di penghujung dekade tujuh puluhan.
Gencatan senjata sementara memang sudah disepakati. Tapi meja perundingan di Islamabad masih tersendat pada dua hal: besaran kompensasi atas kerusakan akibat perang, dan nasib program nuklir Iran yang menjadi pemicu awal konflik ini.
Iran sendiri telah menyatakan akan mengenakan tarif tol bagi setiap kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz, sebagai bagian dari tuntutan ganti rugi mereka. Bagi Teheran, Selat Hormuz adalah kartu terakhir yang tidak akan diserahkan begitu saja di meja negosiasi.
Posisi yang saling mengunci ini menunjukkan bahwa meski senjata sudah sebagian terdiam, perang narasi masih berjalan penuh. Ketika dua pihak sama-sama mengklaim menang di depan publik domestik masing-masing, ruang untuk kompromi menjadi sangat sempit.
Presiden Donald Trump memilih jalur yang lebih blak-blakan. Lewat unggahan di media sosialnya, ia menulis bahwa Iran sudah kalah telak, seraya menyatakan bahwa seluruh dunia berutang budi kepada Amerika karena telah membersihkan jalur perdagangan vital tersebut.
“Apakah kita membuat kesepakatan atau tidak, itu tidak ada bedanya bagi saya, karena kita sudah menang,” kata Trump kepada wartawan.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari 2026. Tujuan utamanya adalah melumpuhkan program nuklir Iran dan memangkas kemampuan rudal jarak jauh mereka. Selat Hormuz menjadi titik paling panas dalam konflik ini karena sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia mengalir melalui perairan sempit tersebut setiap harinya.
Blokade Iran sebelum gencatan senjata telah memukul pasar energi global dan mendorong harga pangan naik di banyak negara berkembang. Kini, apakah gencatan dua pekan ini bisa bertahan cukup lama untuk berubah menjadi perjanjian damai yang permanen, masih menjadi pertanyaan yang belum ada jawabannya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: