Kemenhaj Tinjau Kesiapan Tenda di Arafah, Sejumlah Fasilitas Masih Dikebut Jelang Puncak Haji 2026

- Kemenhaj meninjau kesiapan tenda di Arafah yang akan menampung sekitar 103 ribu jemaah haji Indonesia, dengan sejumlah fasilitas masih dalam tahap penyelesaian dan ditargetkan rampung dalam lima hari.
- Setiap tenda seluas 300 meter persegi disiapkan untuk 238 jemaah, dengan penempatan yang bisa lintas kloter namun tetap menjaga kedekatan antarsesama jemaah, khususnya lansia.
- Pasokan air belum merata di seluruh area tenda, dan fasilitas khusus untuk jemaah lansia serta penyandang disabilitas sudah disiapkan sesuai standar kenyamanan.
, Makkah – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia turun langsung meninjau kesiapan tenda-tenda yang dalam hitungan hari akan dipenuhi jemaah dari seluruh penjuru Indonesia.
Peninjauan berlangsung Sabtu (9/5/2026) di area tenda milik Syarikah Al Bait Guest atau Dhuyuf Al-Bait, penyedia layanan yang ditunjuk untuk menampung sekitar 103 ribu jemaah haji Indonesia selama wukuf di Arafah.
“Kami sudah mengecek beberapa tenda, kamar mandi, dan beberapa tempat lainnya,” ujar Laksma TNI (Purn) Ian Heryawan, Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj, kepada tim Media Center Haji.
Hasilnya belum sepenuhnya menggembirakan. Sejumlah fasilitas masih dalam tahap pengerjaan, dan pihak penyedia layanan menjanjikan seluruhnya akan tuntas dalam lima hari ke depan. Waktu yang tersisa memang mepet, mengingat puncak ibadah haji tinggal menghitung hari.
Tiap tenda berukuran sekitar 300 meter persegi, disiapkan untuk menampung 238 jemaah. Ian menegaskan kapasitas itu sudah diperhitungkan dan dianggap memadai. Untuk memudahkan penempatan, setiap tenda akan dilengkapi keterangan kapasitas, daftar kloter, serta nama-nama jemaah.
Soal pembagian tenda, tidak selalu satu kloter menempati satu tenda secara penuh. Komposisinya bisa bercampur mengingat jumlah jemaah per kloter berkisar 360 hingga 390 orang, sementara kapasitas tiap tenda berbeda-beda.
“Bisa campuran, karena jumlah dalam satu kloter ada yang 360 hingga 390 jemaah, sedangkan kapasitas tenda bervariasi. Namun yang pasti pemisahan kloter itu tidak berjauhan, apalagi untuk jemaah lansia agar tidak terlalu jauh,” jelas Ian Heryawan.
Perhatian khusus diberikan bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas. Kemenhaj memastikan fasilitas kamar mandi dan toilet yang tersedia di area mereka sudah disesuaikan standar kenyamanan, termasuk soal aksesibilitasnya.
Satu catatan yang belum terpenuhi adalah pasokan air. Aliran air memang sudah mengalir di beberapa titik, tetapi belum merata ke seluruh area tenda. Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah sebelum jemaah mulai berdatangan.
Yang menarik dari proses peninjauan ini adalah perpaduan antara rutinitas pengecekan birokratis dan tekanan waktu yang nyata. Di satu sisi, pejabat Kemenhaj berbicara dengan optimisme standar tentang kecukupan kapasitas. Di sisi lain, janji “beres dalam lima hari” dari pihak penyedia bukan sesuatu yang bisa begitu saja diterima tanpa pengawasan ketat.
“Kami ingin memastikan, seluruh jemaah haji Indonesia dapat memasuki tenda di Arafah dan dapat melaksanakan ibadah wukuf dengan tenang dan khidmat,” kata Ian.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: