Negosiasi AS-Iran di Pakistan Berakhir Buntu Setelah 21 Jam, Trump Pilih Nonton UFC di Miami

- Perundingan AS-Iran yang berlangsung selama 21 jam di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan setelah Iran menolak syarat-syarat yang diajukan Washington, sementara Teheran mengklaim AS yang mencari alasan untuk meninggalkan meja perundingan.
- Inkonsistensi pernyataan Trump soal Selat Hormuz dalam sepuluh hari terakhir dinilai sebagai penyebab utama sulitnya negosiasi, karena membuat posisi diplomatik AS tidak dapat dibaca oleh pihak Iran.
- Trump memilih hadir di pertandingan UFC di Miami, bukan memantau jalannya perundingan, dan menyatakan bahwa kesepakatan atau tidak, ia mengklaim AS sudah menang, yang menunjukkan ia tengah membangun narasi untuk keluar dari konflik ini.
, Jakarta – Dua puluh satu jam. Selama itulah delegasi Amerika Serikat dan Iran duduk berhadapan di Pakistan, berdebat tentang nasib Selat Hormuz dan syarat perdamaian yang tak juga ketemu. Hasilnya, tidak ada kesepakatan.
Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi kegagalan putaran perundingan ini dalam konferensi pers singkat. Ia menyebut pihak Iran memilih menolak syarat-syarat yang diajukan Washington, tanpa merinci secara spesifik apa yang menjadi ganjalan utama di meja perundingan.
Di sisi Iran, sumber yang dekat dengan delegasi Teheran menyampaikan versi yang berbeda kepada kantor berita Fars. Sumber itu menyebut AS sebenarnya tengah mencari alasan untuk pergi dari meja perundingan, bukan karena kemauan Iran yang tidak fleksibel.
Sumber tersebut menambahkan bahwa Amerika datang ke meja perundingan bukan untuk membuat kemajuan, melainkan sekadar memulihkan citra yang retak di mata dunia setelah kebuntuan militer dengan Iran. Teheran, kata sumber itu, belum berencana untuk memasuki putaran pembicaraan berikutnya.
Akar dari kebuntuan ini, menurut kalangan analis, bukan hanya soal perbedaan tuntutan kedua negara. Masalah yang jauh lebih mendasar ada di Washington sendiri Donald Trump tidak konsisten.
Dalam sepuluh hari terakhir, Trump setidaknya dua kali membalikkan posisinya soal Selat Hormuz. Di satu kesempatan, ia berkata bahwa jalur perairan itu bukan kepentingan Amerika, dan Washington tidak perlu campur tangan karena tidak lagi bergantung pada minyak yang mengalir melalui sana. Beberapa hari kemudian, nada itu berbalik total.
Trump kemudian menyebut Selat Hormuz sebagai prioritas mutlak dan menegaskan tidak ada ruang kompromi jika jalur itu tidak tetap terbuka. Para diplomat di lapangan kesulitan menjelaskan ke pihak Iran mana posisi Washington yang sesungguhnya.
“Kita sama sekali tidak tahu di mana posisinya, karena itu adalah dua posisi yang sama sekali tidak dapat didamaikan,” ujar seorang analis kepada Al Jazeera.
Ironi terbesar dari malam perundingan maraton itu muncul bukan dari ruang pertemuan, melainkan dari Tribune tribun arena olahraga. Sementara delegasinya berjibaku selama lebih dari sehari penuh di Pakistan, Trump justru terlihat menghadiri pertandingan UFC di Miami.
Pilihan itu dibaca bukan sebagai kebetulan jadwal. Bagi banyak pengamat, kehadiran Trump di tribun UFC malam itu adalah sinyal kuat bahwa ia sedang membangun jalur keluar dari konflik ini tanpa harus mengakui kegagalan secara resmi.
“Entah kita mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak berpengaruh bagi saya, kita sudah menang,” kata Trump kepada media.
Kalimat itu mengungkapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kepercayaan diri. Bagi Trump, yang terpenting adalah narasi kemenangan di mata publik domestik Amerika, bukan detail teknis tentang siapa yang benar-benar menguasai Selat Hormuz.
Pakistan, yang berperan sebagai tuan rumah sekaligus mediator, dipastikan tidak akan menarik diri dari upaya mempertahankan saluran dialog. Ini yang membedakan peran Islamabad dari Oman yang sebelumnya hanya mampu membawa kedua delegasi ke pembicaraan terpisah. Kali ini, Iran dan AS benar-benar duduk satu ruangan. Itu sendiri sudah dianggap sebuah pencapaian, walau tanpa hasil.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: