Pekerja Jakarta Cerita Dampak Overwork: Kena PCOS hingga Tak Haid 6 Bulan

- Kristin (28) didiagnosis PCOS dan tidak haid selama 6 bulan akibat overwork dengan beban proyek besar namun tim sedikit
- Kirana (28) mengalami gangguan mental serius akibat atasan yang tidak kompeten mendelegasikan tugas, hingga sering drop dan absen ke rumah sakit
- Data BPS 2025 menunjukkan 25,47 persen pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu, dengan kelompok usia produktif 25-54 tahun paling dominan
, JAKARTA – Fenomena overwork masih menjadi masalah nyata bagi pekerja di Indonesia. Jam kerja yang melebihi standar delapan jam per hari ternyata membawa dampak serius pada kesehatan fisik dan mental.
Kristin (28), pekerja swasta yang juga aktif di kegiatan event, menceritakan pengalaman pahitnya. Ia pernah didiagnosis Polycystic Ovary Syndrome akibat beban kerja yang sangat berat.
“Pernah overwork, sampai asam lambung. Bahkan sampai stresnya sampai kena PCOS, aku nggak mens 6 bulanan. Itu tahun 2024, aku nggak mens dari bulan Juni-Desember,” cerita Kristin, Rabu (28/1/2026).
Menurut Kristin, proyek yang harus dikerjakan besar-besar, tapi jumlah orang sedikit. Ekspektasi tinggi, sementara sumber daya terbatas.
“Projectnya gede-gede, orangnya sedikit, ekspektasi gede,” sambungnya.
Kirana (bukan nama asli), pegawai swasta 28 tahun di Jakarta Selatan, juga merasakan beban mental dan fisik yang berat. Hingga sekarang, ia masih sering absen ke rumah sakit karena tubuhnya sering drop.
Secara mental, Kirana mengaku cukup terganggu. Ia menyebut kondisi ini berkaitan dengan atasannya yang kurang kompeten mendelegasikan tugas. Akibatnya, ia dan karyawan lain harus overwork.
“Mental tuh nanonano karena tiap bangun pagi yg ada dipikiran, ‘Duh gue bakal diapain lagi hari ini ya’. Ini sih overwork karena leader kurang capable manage kerjaan, jadi staff yang kena imbasnya,” kata Kirana.
Kirana memilih bertahan dengan cara membiasakan diri, meski tidak membenarkan situasi yang terjadi.
“Ditelan aja, membiasakan diri tapi tidak membenarkan yang terjadi karena aku nggak bisa ubah sifat orang yang bikin overwork dan stress. Sampai akhirnya terbiasa dan malah jadi pembelajaran aja buat ke depannya,” sambungnya.
Liga (27) juga punya pengalaman kurang mengenakkan. Ia pernah jatuh sakit karena sering mengejar deadline hingga subuh. Dengan berbagai pertimbangan, ia akhirnya keluar dan pindah tempat kerja.
Untuk mengatasi stres, Liga menganggap “me time” untuk istirahat atau hiburan sangat penting.
“Biasanya kalo udah lagi overwork ya cari hiburan sesaat kaya dengerin lagu sebentar sambil rebahan, terus kalo ada free time abis itu, langsung refreshing sekedar ngobrol sama temen, atau main game, atau jalan-jalan,” tandas Liga.
Data Badan Pusat Statistik per 2025 menunjukkan bahwa 40,43 persen pekerja di Indonesia bekerja dalam rentang 35-48 jam per minggu. Sebanyak 25,47 persen lainnya bekerja lebih dari 49 jam seminggu.
Berdasarkan usia, penduduk produktif menjadi penyumbang terbesar persentase pekerja overwork. Kelompok usia 35-44 tahun paling dominan dengan 9,5 juta orang bekerja 49 jam per minggu.
Posisi berikutnya kelompok usia 25-34 tahun sebanyak 8,71 juta orang, kemudian kelompok usia 45-54 tahun sekitar 8,38 juta pekerja.
Tiga kisah di atas menunjukkan bahwa overwork bukan hanya tentang jam kerja panjang. Dampaknya menjalar ke kesehatan reproduksi, mental, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Kondisi kerja yang tidak sehat seperti ini sering kali dipicu oleh manajemen yang buruk, target tidak realistis, dan minimnya tenaga kerja. Pekerja menjadi korban dari sistem yang tidak berpihak pada kesejahteraan mereka.
Bagi banyak pekerja muda di Jakarta, pilihan sangat terbatas. Bertahan sambil “membiasakan diri” seperti Kirana, atau keluar seperti Liga, keduanya punya konsekuensi tersendiri.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: