Trump Rencanakan Deportasi 40 Warga Iran, Termasuk Dua Gay Terancam Hukuman Mati

- Pemerintahan Trump berencana mendeportasi sekitar 40 warga Iran dari Amerika Serikat pada hari Minggu dari bandara Phoenix, Arizona, di tengah protes berdarah di Iran yang menewaskan ribuan orang.
- Di antara yang akan dideportasi terdapat dua laki-laki gay yang menghadapi ancaman hukuman mati di Iran, sementara proses hukum untuk mencegah deportasi mereka masih berlangsung.
- NIAC mengkritik keras kebijakan ini karena pemerintahan yang menjanjikan bantuan kepada warga Iran justru secara paksa mengirim mereka kembali ke dalam bahaya di tengah penindasan rezim Khamenei.
, Jakarta – Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana mendeportasi sekitar 40 warga Iran dari Amerika Serikat di tengah gelombang protes berdarah yang mengguncang rezim Ayatollah Ali Khamenei di Iran.
Dewan Nasional Iran-Amerika menyatakan telah mengetahui rencana pemerintahan Trump untuk memulai kembali penerbangan deportasi ke Iran. Organisasi non-pemerintah ini mengkritik keras kebijakan tersebut.
“Pemerintahan yang sama yang menjanjikan kepada warga Iran bahwa ‘bantuan sedang dalam perjalanan’ di tengah penindakan mematikan kini secara paksa mengirim warga Iran kembali ke dalam bahaya,” kata Presiden NIAC, Jamal Abdi, pada Jumat (23/1), seperti dikutip AFP.
NIAC sebelumnya melaporkan pemerintahan Trump melakukan deportasi terhadap warga Iran di Negeri Paman Sam pada September dan Desember lalu. Kebijakan ini kembali dilanjutkan di tengah ketegangan politik di Iran.
Diplomat yang mewakili kepentingan Teheran di Amerika Serikat, Abolfazl Mehrabadi, mengonfirmasi sekitar 40 warga Iran akan dideportasi. Mereka dijadwalkan berangkat pada hari Minggu dari bandara di Phoenix, Arizona.
American Immigration Council, organisasi advokasi imigran, menyatakan di antara yang akan dideportasi terdapat dua laki-laki gay yang menghadapi ancaman hukuman mati di Iran.
Kedua orang itu saat ini ditahan di pusat penahanan imigrasi di Arizona. Proses hukum untuk mencegah deportasi mereka masih berlangsung, namun belum jelas apakah upaya tersebut berhasil.
Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah AS terkait rencana deportasi warga Iran. Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS juga tak segera menanggapi saat dihubungi AFP.
Jika betul terjadi, penerbangan deportasi tersebut akan jadi yang pertama ke Iran sejak pemberontakan massal membara di negara itu. Kondisi keamanan di Iran saat ini sangat tidak stabil dengan ribuan orang meninggal akibat tindakan represif pemerintah.
Trump telah berulang kali mengancam akan melancarkan serangan militer ke Iran sebagai tanggapan atas dugaan tindak kekerasan pemerintah Khamenei terhadap demonstran.
Protes besar-besaran di Iran telah menyebabkan ribuan orang meninggal dan puluhan fasilitas sipil rusak. Khamenei meyakini demo yang mulanya damai itu disusupi agen Israel dan AS hingga menyebabkan kerusuhan.
Khamenei sempat mengatakan tak akan menoleransi apapun terhadap pedemo yang merusak fasilitas. Sepanjang aksi berlangsung, ribuan orang juga ditangkap, menghadapi persidangan, dan beberapa di antaranya divonis mati.
Namun, setelah Trump berulang kali mengancam, Iran dilaporkan menangguhkan eksekusi yang direncanakan. Rencana operasi militer AS terhadap Iran tampaknya juga tak terlaksana setelah Trump menyatakan lebih memilih tidak ada apa-apa yang terjadi.
Kebijakan deportasi ini memicu kritik keras dari berbagai kalangan. Organisasi hak asasi manusia menilai tindakan ini membahayakan nyawa warga Iran yang justru melarikan diri dari penindasan di negara asal mereka.
Keputusan mendeportasi dua laki-laki gay ke Iran yang mengancam hukuman mati bagi kelompok LGBT menjadi sorotan khusus. Iran termasuk negara yang menerapkan hukuman mati terhadap hubungan sesama jenis.
Rencana deportasi ini juga kontradiktif dengan retorika Trump yang berulang kali menyatakan dukungan kepada demonstran Iran. Di satu sisi Trump mengancam serangan militer untuk melindungi demonstran, di sisi lain justru mengirim warga Iran kembali ke zona konflik.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: