SPBU Sampang Prioritaskan Jeriken, Pembeli Mengaku Nelayan yang Butuh BBM untuk Dua Kapal

- SPBU Tamba'an, Camplong, Sampang, disorot karena diduga memprioritaskan pengisian BBM untuk pembeli berjerikin dibanding kendaraan umum yang antre.
- Samsul, pemilik jeriken, mengaku nelayan yang membeli Dexlite Rp 24.000/liter untuk dua kapal yang akan berlayar jauh, bukan solar bersubsidi.
- Sopir pikap bernama Amir mempertanyakan kejanggalan solar disebut habis, tapi pengisian jeriken tetap berjalan di pompa berlabel solar tanpa pengumuman apapun.
, Sampang – Sebuah SPBU di kawasan Tamba’an, Camplong, Sampang, Jawa Timur, mendapat perhatian setelah petugas di sana terlihat memprioritaskan pengisian BBM untuk pembeli yang datang membawa jeriken dalam jumlah banyak, sementara kendaraan umum harus menunggu, bahkan kehabisan.
Pemilik puluhan jeriken itu mengaku sebagai nelayan setempat bernama Samsul. Ia membantah membeli solar bersubsidi, dan menegaskan bahwa yang ia beli adalah Dexlite dengan harga Rp 24.000 per liter, bukan solar yang harganya lebih murah.
“Ndak, jeriken itu punya saya buat solar kapal (nelayan) saya,” kata Samsul di lokasi SPBU, Senin (8/6/2026).
Samsul mengaku memiliki dua kapal nelayan yang sedang bersiap untuk andun, yakni berlayar keluar wilayah selama beberapa hari. Ia menyebut terpaksa membeli Dexlite karena stok solar di SPBU tersebut sudah habis.
“Ya terpaksa (beli Dexlite), soalnya dua kapal saya mau andun, soalnya lagi musim ikan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan alasan membeli dalam jumlah besar sekaligus, yakni untuk menghemat ongkos transportasi. Jeriken-jeriken itu ia titipkan sementara di gudang sebelah timur SPBU sambil menunggu pikap yang akan mengangkutnya.
Namun cerita dari sisi lain tidak semudah itu ditelan begitu saja. Samsul sempat melarang wartawan memotret jerikanjerikennya. Sikapnya yang defensif justru mempertebal tanda tanya.
Keluhan datang dari Amir, sopir pikap yang mengaku hampir setiap hari mengisi BBM di SPBU yang sama. Menurutnya, berkali-kali ia mendapati solar disebut habis, tapi di waktu bersamaan petugas justru mengisi puluhan jeriken.
“Tadi katanya solarnya habis, tapi mereka mengisi puluhan jeriken,” kata Amir kepada detikJatim, Minggu (7/6/2026).
Amir juga curiga dengan lokasi pengisian. Meski petugas menyebut yang diisikan adalah Dexlite, pompa yang digunakan berada di jalur khusus solar, bukan di blok bertuliskan Dexlite yang ada di sebelahnya.
“Saya nggak tahu yang diisi itu memang Dexlite atau solar. Soalnya di blok itu hanya tertera tulisan solar. Padahal kalau blok yang tulisannya Dexlite ada di sebelahnya, itu kan aneh,” ungkapnya.
Pengakuan nelayan dan kesaksian sopir pikap itu saling bersinggungan tanpa titik temu. Yang jelas, di lapangan ada dua versi, dan tidak ada papan pengumuman “BBM habis” yang terpasang saat antrian kendaraan tak kebagian bahan bakar.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: