Israel Kembali Langgar Gencatan Senjata: 21 Tewas Termasuk Bocah 4 Tahun di Gaza

- Israel bunuh 21 warga Palestina termasuk bocah 4 tahun sejak Selasa dini hari, total 524 tewas sejak gencatan senjata Oktober dengan lebih dari 100 anak-anak
- Evakuasi medis via Rafah dibatalkan Selasa, hanya 5 dari 20.000 pasien sakit diizinkan keluar hari pertama pembukaan meski rencana awal 50 pasien per hari
- Israel klaim Hamas langgar gencatan senjata dengan keluarkan militan dari terowongan Jumat lalu, namun Hamas bantah keras dan sebut Israel cari alasan lanjutkan serangan
, Yogyakarta-Sedikitnya 21 warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan berusia empat tahun, tewas dalam serangan Israel di berbagai wilayah Gaza sejak Selasa (4/2) dini hari. Kekerasan ini terus berlanjut meskipun gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat telah berlaku sejak Oktober 2025.
Serangan terbaru menewaskan warga Palestina di Kota Gaza dan Khan Younis dalam rentetan pemboman yang dilakukan oleh pasukan Israel. Korban termasuk anak-anak dan perempuan yang berada di kawasan permukiman dan tenda-tenda pengungsian.
Juru bicara Palang Merah Bulan Sabit Palestina (PRCS) sebelumnya mengumumkan bahwa evakuasi pasien dan korban luka melalui penyeberangan Rafah dibatalkan untuk hari Selasa. Namun pihak berwenang kemudian menyatakan penyeberangan akan kembali beroperasi setelah sempat ditangguhkan.
Pembatalan evakuasi ini menambah penderitaan ribuan pasien Gaza yang membutuhkan perawatan medis mendesak di luar wilayah. Sekitar 20.000 warga Palestina, termasuk anak-anak dan orang dewasa, menunggu kesempatan untuk meninggalkan wilayah yang hancur melalui penyeberangan Rafah guna mendapatkan perawatan medis.
Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir baru dibuka kembali pada 2 Februari setelah hampir dua tahun ditutup. Namun operasinya sangat terbatas dengan hanya lima pasien dalam kondisi kritis yang diizinkan keluar pada hari pertama, jauh dari rencana awal 50 pasien per hari.
Pembukaan kembali Rafah merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata fase kedua yang didukung AS. Israel menyetujui pembukaan terbatas hanya untuk pejalan kaki dengan mekanisme inspeksi penuh oleh Israel. Pembukaan ini dikondisikan pada pengembalian semua sandera yang masih hidup dan upaya penuh Hamas untuk menemukan semua sandera yang telah meninggal.
Gelombang serangan terbaru ini terjadi setelah Israel mengklaim Hamas melanggar gencatan senjata pada Jumat (30/1) ketika delapan militan disebut keluar dari terowongan di Rafah timur. Militer Israel merespons dengan serangan besar-besaran yang menewaskan lebih dari 30 warga Palestina dalam sehari.
Hamas membantah keras klaim Israel tersebut, menyebutnya sebagai tuduhan lemah dan tidak berdasar. Kelompok Palestina itu menilai Israel sengaja mengabaikan peran mediator internasional dan mencari alasan untuk melanjutkan serangan.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di pusat kepolisian Sheikh Radwan di Gaza City bagian utara yang menewaskan 14 orang. Korban termasuk empat tahanan, tiga polisi perempuan, dan personel kepolisian lainnya. Ledakan juga merusak bangunan di sekitar lokasi kejadian.
Di Khan Younis, pesawat tempur Israel mengebom gedung administrasi kamp Ghaith yang menjadi tempat berlindung puluhan pengungsi. Serangan dilakukan setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi yang memicu kepanikan luas di kalangan warga.
Serangan drone Israel juga menghantam sekelompok warga Palestina di kawasan permukiman al-Nasr, Gaza City barat, menewaskan sedikitnya tiga orang. Petugas Pertahanan Sipil Gaza melaporkan masih ada korban yang tertimbun reruntuhan.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober lalu, total warga Palestina yang tewas di tangan pasukan Israel telah mencapai lebih dari 524 jiwa, termasuk lebih dari 100 anak-anak. Sementara 1.360 orang lainnya mengalami luka-luka.
Nickolay E. Mladenov, utusan Gaza dari Board of Peace, menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan sejak Jumat. Ia memperingatkan bahwa kejadian tersebut berisiko merusak kemajuan yang telah dicapai dalam kesepakatan gencatan senjata.
“Saya sangat prihatin dengan apa yang terjadi sejak Jumat: anggota bersenjata Hamas keluar dari terowongan di Rafah, serangan Israel yang secara tragis juga menewaskan warga sipil,” tulis Mladenov di media sosial X.
“Perkembangan seperti itu berisiko merusak kemajuan yang telah diraih berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 dan Rencana Perdamaian 20-Poin Presiden Trump,” tambahnya.
Sementara itu, Mesir telah menyiapkan sekitar 150 rumah sakit untuk menerima pasien Palestina yang dievakuasi dari Gaza melalui Rafah. Palang Merah Mesir menyatakan telah menyiapkan ruang aman di sisi Mesir untuk mendukung mereka yang dievakuasi. Kementerian Kesehatan Mesir menugaskan 12.000 dokter untuk merawat pasien dari Gaza.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: