Isak Tangis dan Takbir Pecah di Blumbungan: Haji Her Pulang, Madura Bergerak

- Pengusaha tembakau Pamekasan Haji Khairul Umam (Haji Her) disambut sekitar 20 ribu petani, ulama, dan warga dari seluruh Madura di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Minggu (12/4/2026), setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi KPK di Jakarta pada 9 April 2026.
- Massa yang datang dari Sumenep, Sampang, Bangkalan, dan seluruh kecamatan di Pamekasan berebut menyambut Haji Her dengan takbir, selawat, dan isak tangis, menggambarkan kedekatan emosional yang kuat antara sosok pengusaha ini dan komunitas petani tembakau Madura.
- Haji Her diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, sementara ia dikenal selama ini aktif membeli tembakau petani dengan harga tinggi melalui kemitraan dengan sekitar 350 pondok pesantren se-Madura.
, Pamekasan – Sejak pukul 08.00 WIB, ribuan orang sudah berjejal di sepanjang Jalan Raya Kecamatan Tlanakan, perbatasan Pamekasan-Sampang, Jawa Timur. Mereka bukan hendak menyaksikan arak-arakan atau acara resmi. Mereka menunggu satu orang, Haji Khairul Umam, atau yang lebih dikenal sebagai Haji Her.
Pengusaha tembakau yang dijuluki “Sultan Madura” itu baru saja menjalani pemeriksaan sebagai saksi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di Gedung Merah Putih, Jakarta, pada Kamis (9/4/2026), terkait penyidikan kasus dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Begitu kabar kepulangannya tersebar, Madura bergerak.
Massa datang dari empat penjuru pulau. Dari Sumenep, Sampang, Bangkalan, hingga seluruh kecamatan di Pamekasan. Tidak hanya petani tembakau, buruh pabrik rokok, ulama, dan warga biasa ikut hadir memadati jalan raya untuk menyambut sosok yang mereka anggap sebagai sandaran nasib.
Begitu iring-iringan mobil rombongan Haji Her muncul di Kecamatan Tlanakan, kerumunan langsung merangsek maju. Ribuan orang berebut mendekat, bertakbir, dan melantunkan selawat. Saat Haji Her keluar dari mobilnya di Gudang Induk Bawang Mas, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, sekitar 20 ribu orang sudah memadati halaman lokasi. Isak tangis bercampur teriakan “Allahu Akbar” bergema.
Haji Her mengaku tidak menyangka sambutannya akan sebesar itu.
“Saya baru tahu waktu hampir mau sampai ke Pamekasan. Kami ucapkan terima kasih atas penyambutan ini,” katanya di hadapan ribuan petani.
Ia juga menyampaikan rencana untuk meminta petuah ulama terkait langkah ke depan dalam mengawal kesejahteraan petani tembakau.
Bagi para petani yang hadir, panggilan KPK terhadap Haji Her bukan sekadar urusan hukum. Petani tembakau bernama Akhmad Sukardi mengungkapkan keresahan yang dia rasakan sejak kabar pemeriksaan itu tersiar.
“Haji Her adalah pejuang kami. Tanpa Haji Her petani tidak akan sejahtera,” kata Sukardi.
Senada dengan itu, petani lain bernama Misnadi menyebut dalam empat tahun terakhir harga tembakau Madura tidak pernah turun di bawah Rp50.000 per kilogram. Ia mengklaim kondisi ini tidak lepas dari peran Haji Her yang secara konsisten membeli tembakau petani dengan harga tinggi, bahkan menggandeng sekitar 350 pondok pesantren se-Madura untuk patungan modal pembelian.
Nama Haji Her memang tidak bisa dipisahkan dari tembakau Madura. Ia menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau se-Madura (P4TM), sekaligus pemilik PT Bawang Mas Group yang bermarkas di Desa Blumbungan. Gudang itulah yang menjadi titik kumpul puluhan ribu orang hari ini.
Yang menarik dari penyambutan ini bukan sekadar jumlahnya. Ini adalah salah satu bentuk ikatan antara pengusaha dan komunitas petani yang sulit ditemukan di daerah lain. Madura membuat pernyataan tanpa kata-kata: siapapun yang dianggap membela nafkah mereka, akan dibela balik dengan segenap tenaga.
Status Haji Her dalam pemeriksaan KPK adalah saksi, bukan tersangka. Penyelidikan masih berjalan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: