Berani Tutup Dapur Nakal, Inilah Sosok Baru yang Kini Pimpin Badan Gizi Nasional

- Presiden Prabowo menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru menggantikan Dadan Hindayana yang dicopot pada 2 Juni 2026, disertai dua wakil kepala baru, Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Eddy Trenggono.
- Nanik dikenal kerap menyidak dapur SPPG saat menjabat Wakil Kepala BGN, menemukan berbagai pelanggaran higienitas dan SOP, serta tidak segan menutup dapur yang bermasalah.
- Berlatar belakang jurnalis senior, Nanik juga pernah menjabat Wakil I BP Taskin dan Komisaris Independen PT Pertamina sebelum bergabung ke BGN pada September 2025.
, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, menggantikan Dadan Hindayana yang dicopot pada Selasa, 2 Juni 2026. Pengumuman disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam pernyataan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Bersama pengangkatan Nanik, dua wakil kepala BGN baru juga dilantik, yakni Agustina Arumsari dan Mayor Jenderal TNI Eddy Trenggono, menggantikan Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya.
“Kepada tiga pimpinan Badan Gizi Nasional yang baru, kami berharap dapat segera melakukan konsolidasi internal, memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga, serta koordinasi bersama pemerintah daerah, provinsi maupun kabupaten/kota,” kata Prasetyo Hadi.
Nanik bukan nama asing di BGN. Sebelum naik ke kursi kepala, ia menjabat Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi sejak September 2025, sekaligus merangkap Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Program MBG. Di posisi itu, ia sudah berulang kali terjun langsung ke lapangan, menyidak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah, termasuk Sukabumi, Jawa Barat, dan Solo.
Dari sejumlah sidak itu, ia kerap mendapati pelanggaran dapur yang tak memenuhi standar higienitas, tata letak yang menyimpang dari pedoman teknis, hingga fasilitas sanitasi yang berpotensi mencemari pangan. Nanik tidak membiarkan temuan itu berlalu begitu saja. SPPG yang melanggar langsung ditangguhkan.
“Ingat! Kepala SPPG, Pengawas Keuangan, Pengawas Gizi, jangan pernah mau mengikuti kemauan, apalagi malah bekerja sama dengan Mitra SPPG yang me-mark-up harga bahan baku pangan untuk Program MBG ini, apalagi dengan kualitas bahan pangan yang jelek,” tegasnya saat berkunjung ke Solo pada Februari lalu.
Rekam jejaknya sebelum masuk BGN juga tidak pendek. Nanik lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968, dan memulai karier sebagai jurnalis di Tabloid Bangkit, grup Kompas Gramedia, sebelum akhirnya memimpin Kelompok Media Peluang. Alumnus Universitas Jenderal Soedirman ini kemudian merambah dunia politik, sempat bergabung dalam struktur Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019.
Jalur birokrasinya pun cukup beragam. Pada Oktober 2024, ia masuk sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, lalu pada Juni 2025 ditunjuk sebagai Komisaris Independen PT Pertamina melalui Keputusan Menteri BUMN, sebelum akhirnya bergabung ke BGN.
Pergantian kepemimpinan BGN ini terjadi di tengah sorotan terhadap dugaan jual beli titik dapur MBG yang menyeret nama Dadan Hindayana. Prasetyo Hadi menegaskan keputusan Presiden bukan diambil tiba-tiba.
Menarik bahwa Prabowo memilih sosok yang justru sudah lama berkecimpung di pengawasan internal MBG, bukan figur dari luar. Pilihan itu bisa dibaca sebagai sinyal bahwa masalah utama program ini dianggap bukan soal desain, melainkan soal eksekusi di lapangan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: