Wamenhaj: Petugas Haji Harus Multifungsi untuk Layani Seluruh Kebutuhan Jemaah di Tanah Suci

- Petugas haji 2026 diwajibkan memahami semua jenis layanan, bukan hanya tugas pokoknya, karena jemaah akan meminta bantuan kepada petugas mana pun yang ditemui.
- Dahnil menekankan petugas harus siap lintas fungsi, seperti petugas konsumsi bisa beri info hotel, dan petugas media bisa beri pertolongan pertama kesehatan.
- Kondisi fisik petugas harus prima karena 90% ibadah haji adalah aktivitas fisik, terutama saat berada di Armuzna, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
, Jakarta – Pemerintah mengamanatkan para petugas haji tahun 2026 untuk memahami semua jenis layanan dan tugas. Tujuannya agar mereka mampu memberikan bantuan dan melayani jemaah haji dengan optimal di Tanah Suci, apapun tugasnya.
Sebagai contoh, petugas konsumsi harus mampu memberikan informasi terkait lokasi hotel. Begitu pula petugas media, mereka juga dituntut mampu memberikan pertolongan pertama dalam bidang kesehatan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak saat meninjau pelaksanaan diklat Petugas Haji 1447 H/2026 M pekan kedua. Peninjauan dilakukan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Pada pekan kedua diklat, para petugas haji akan mempelajari tugas dan fungsi sesuai dengan bidang layanan masing-masing. Misalnya, petugas konsumsi akan mendalami aspek teknis dan manajerial penyediaan makanan bagi jemaah, mulai dari porsi, kandungan gizi, hingga proses distribusinya.
Meski demikian, Dahnil menekankan bahwa setiap petugas haji juga wajib memahami tugas dan fungsi di luar bidangnya. Alasannya, dalam praktik di lapangan, jemaah haji akan meminta bantuan kepada siapa saja yang mengenakan seragam petugas haji, tanpa melihat tugas aslinya.
Jika ada jemaah yang tersesat dan mereka melihat petugas konsumsi, maka jemaah tersebut akan tetap meminta bantuan kepada petugas itu. Demikian pula jika terjadi kejadian yang tidak diharapkan, seperti jemaah pingsan atau sakit di luar lokasi.
Petugas haji yang kebetulan berada di lokasi tersebut harus mampu membantu sang jemaah, meskipun dia bukan petugas kesehatan atau tidak memiliki latar belakang medis.
“Oleh sebab itu, teman-teman harus memahami alur A sampai Z-nya, ya. Misalnya terkait dengan katering, bagaimana proses persiapan katering, kemudian akomodasi persiapan hotel, termasuk standarnya,” ujar Dahnil pada Senin (19/1/2026).
Dia juga menekankan bahwa para jurnalis dan seluruh petugas haji harus memiliki kesiapan penuh sebelum bertugas. Mereka wajib memiliki pengetahuan yang baik mengenai tanggung jawab petugas, alur pelaksanaan ibadah haji, teknis pelayanan kepada jemaah, hingga cara menangani berbagai persoalan terkait ibadah haji.
Tidak hanya itu, Dahnil juga berpesan agar para petugas haji selalu menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Menurutnya, hampir 90 persen pelaksanaan ibadah haji adalah aktivitas fisik, sehingga memerlukan kondisi fisik yang mumpuni, terutama bagi petugas yang melayani jemaah.
“Harus menjadi perhatian teman-teman terhadap pelayanan, terhadap jemaah. Yang paling krusial itu nanti di Armuzna, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Nah, harus dipastikan semuanya bekerja di bawah satu komando,” ujar Dahnil.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: