Kapal Induk USS Abraham Lincoln Tiba di Timur Tengah, Trump Klaim Iran Ingin Dialog

- Kapal induk USS Abraham Lincoln dan kelompok tempurnya tiba di Timur Tengah, membawa 5.700 personel militer tambahan serta rudal Tomahawk yang mampu menjangkau Iran
- Trump klaim Iran berkali-kali menelepon untuk negosiasi, namun Teheran membantah dan menyatakan siaga tinggi menghadapi kemungkinan serangan AS
- Iran mengancam akan membalas setiap bentuk serangan sebagai perang habis-habisan, sementara akses internet di negara itu masih dibatasi sejak 8 Januari
, Jakarta-Kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln telah memasuki kawasan Timur Tengah pada Senin (26/1/2026), menandai eskalasi signifikan kesiapan militer Washington di tengah memanasnya ketegangan dengan Iran. Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi pengerahan tersebut dilakukan untuk memperkuat keamanan dan stabilitas regional.
Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan Axios menyebutkan bahwa AS kini memiliki “armada besar” yang ditempatkan di dekat Iran. Namun ia mengklaim Teheran justru menginginkan jalur diplomasi.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu. Mereka menelepon berkali-kali,” ujar Trump.
Pernyataan Trump disampaikan di tengah gelombang protes besar yang melanda Iran dalam beberapa pekan terakhir. Demonstrasi tersebut dipicu oleh krisis ekonomi dan berujung pada seruan untuk menggulingkan rezim.
Kelompok tempur kapal induk Lincoln didukung oleh kapal perusak kelas Arleigh Burke yang dilengkapi rudal jelajah Tomahawk. Senjata tersebut mampu menghantam sasaran jauh di dalam wilayah Iran.
Kapal-kapal perang AS juga dipersenjatai dengan sistem tempur Aegis yang berfungsi sebagai pertahanan udara dan rudal terhadap ancaman balistik maupun jelajah. Kedatangan gugus tempur ini membawa sekitar 5.700 anggota militer tambahan ke kawasan.
Pejabat angkatan laut AS menyebutkan USS Abraham Lincoln sebelumnya berada di Laut China Selatan dan mulai mengubah jalur pelayarannya melewati Selat Malaka menuju Samudra Hindia awal pekan lalu. Data pelacakan kapal menunjukkan kapal induk tersebut mematikan sistem pelacak otomatis (AIS) saat memasuki Samudra Hindia, langkah yang lazim dilakukan dalam operasi militer sensitif.
Selain aset laut, 12 pesawat tempur F-15 AS dilaporkan mendarat di Yordania. Pesawat kargo militer juga tiba di pangkalan Diego Garcia dengan membawa sistem pertahanan rudal Patriot untuk melindungi pangkalan dan aset Amerika di kawasan Teluk.
Iran merespons pengerahan militer AS dengan nada keras. Seorang pejabat senior Iran yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan mereka menganggap setiap bentuk serangan sebagai perang habis-habisan.
“Militer kami siap untuk skenario terburuk. Inilah sebabnya mengapa semuanya dalam keadaan siaga tinggi di Iran,” kata pejabat tersebut kepada The Independent.
“Kali ini kita akan menganggap setiap serangan terbatas, tak terbatas, terarah, kinetik, apa pun sebutannya, sebagai perang habis-habisan melawan kita, dan kita akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk menyelesaikan ini,” lanjutnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah keras laporan yang menyebut utusan khusus AS Steve Witkoff tengah menjalin kontak diplomatik dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Baghaei memperingatkan bahwa pengerahan pasukan dan ancaman militer bertentangan dengan hukum internasional.
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Larijani menuduh AS berupaya memecah kohesi publik Iran terlebih dahulu sebelum melancarkan serangan militer. Ia menyebut para demonstran sebagai kelompok urban dengan karakteristik mirip teroris yang ingin memicu perang saudara.
“Para perusuh merupakan kelompok urban dengan karakteristik mirip teroris. Ketika mereka menyerbu pusat militer dan polisi untuk mendapatkan senjata, itu menunjukkan mereka ingin memicu perang saudara. Kali ini, taktik AS adalah memecah kohesi publik terlebih dahulu, baru kemudian melakukan serangan militer,” kata Larijani.
Pengerahan armada AS ini mengingatkan pada penempatan besar-besaran pada Juni tahun lalu, beberapa hari sebelum serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran saat konflik 12 hari antara Israel dan Teheran. Dalam serangan tersebut, militer AS dilaporkan meluncurkan sekitar 30 rudal Tomahawk dari kapal selam serta menggunakan pesawat pengebom siluman B-2.
Sementara itu, akses internet di Iran dilaporkan dibatasi sejak 8 Januari 2026. Departemen komunikasi Iran menyatakan dunia usaha tidak akan mampu bertahan jika pemadaman layanan berlangsung lebih dari 20 hari.
Media Israel melaporkan adanya kekhawatiran bahwa Iran justru bisa melancarkan serangan pendahuluan lebih dulu, mengingat terus bertambahnya jumlah armada AS yang mendekati kawasan Teluk. Angkatan Udara Israel dilaporkan telah dalam posisi waspada penuh sebagai antisipasi.
Jumlah korban tewas akibat penindasan demonstrasi di Iran masih menjadi perdebatan. Lembaga pemantau HAM Human Rights Activists News Agency menyebut korban tewas mencapai 5.419 orang, dengan sekitar 17.000 kematian lainnya masih dalam penyelidikan. Namun Pelapor Khusus PBB untuk Iran Mai Sato mengatakan belum bisa memverifikasi angka tersebut.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: