APNI dan PNIA Tandatangani MoU di Cebu, Indonesia-Filipina Resmi Bangun Koridor Nikel Strategis

- Indonesia dan Filipina menandatangani MoU kerja sama nikel strategis di Cebu melalui asosiasi penambang kedua negara, mencakup pengembangan teknologi hilirisasi, pertukaran informasi perdagangan, dan peningkatan SDM industri nikel.
- Kedua negara bersama menguasai 73,6 persen produksi nikel global, dengan Indonesia sebagai pemimpin hilirisasi dan smelter, sementara bijih nikel Filipina dibutuhkan untuk proses blending di smelter-smelter Indonesia.
- Koridor nikel Indonesia-Filipina ditargetkan mendukung proyeksi investasi hilirisasi senilai 47,36 miliar dolar AS dan penyerapan 180.600 tenaga kerja pada 2030, sekaligus memperkuat posisi regional dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
, Jakarta – Indonesia dan Filipina resmi mempererat kerja sama di sektor nikel dengan menandatangani nota kesepahaman strategis di sela-sela rangkaian KTT ASEAN Economic Community ke-27 di Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026). MoU itu diteken antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia dan Philippine Nickel Industry Association, disaksikan langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque.
Ruang lingkup kerja sama mencakup tiga hal utama: pertukaran informasi untuk menstabilkan perdagangan nikel regional dan global, pengembangan bersama teknologi hilirisasi termasuk pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.
Airlangga menyebut kerja sama ini menjadi fondasi bagi terbentuknya Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel dari Filipina.
“Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” kata Airlangga dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Angkanya memang berbicara. Mengacu pada data United States Geological Survey 2026, Indonesia dan Filipina bersama-sama menguasai 73,6 persen produksi nikel global per 2025. Indonesia menyumbang sekitar 66,7 persen atau 2,6 juta ton, sementara Filipina berkontribusi 6,9 persen atau 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5 persen cadangan nikel dunia atau 62 juta ton, ditambah kepemilikan Filipina sebesar 4,8 juta ton.
Di sisi teknis, ada alasan spesifik mengapa bijih nikel Filipina dibutuhkan industri smelter Indonesia. Bijih dari Filipina memiliki rasio silikon terhadap magnesium yang sesuai untuk proses blending di smelter-smelter milik Indonesia yang selama ini membutuhkan pasokan stabil dengan karakteristik tertentu.
Dengan koridor baru ini, Airlangga menegaskan Filipina tidak lagi sekadar menjadi eksportir bahan mentah, melainkan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi. Di sisi lain, Indonesia mendapat jaminan keamanan pasokan bahan baku untuk industri baterai dan baja tahan karat.
Nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia sudah mencapai 9,73 miliar dolar AS pada 2025. Proyeksi investasi hilirisasi nikel ditargetkan menyentuh 47,36 miliar dolar AS dengan penyerapan 180.600 tenaga kerja pada 2030. Koridor nikel bersama ini diharapkan ikut menopang angka-angka itu sekaligus memperkuat posisi kedua negara dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan energi surya global.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: