Harga Minyak Dunia Menguat Setelah Trump Ancam Kirim Armada ke Iran

- Harga minyak Brent naik 0,55% ke $64,41/barel dan WTI naik 0,56% ke $59,69/barel setelah Trump ancam kirim armada ke Iran
- Armada AS termasuk kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali dijadwalkan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan
- Iran adalah produsen minyak keempat terbesar OPEC dan eksportir utama ke China, sehingga konflik berpotensi ganggu pasokan minyak global
, Jakarta-Harga minyak mentah dunia mencatat penguatan pada perdagangan Jumat (23/1) menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan akan mengirim armada militer ke Iran. Ancaman ini memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.
Pernyataan Trump menandakan eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran yang semakin memanas. Pasar energi merespons dengan kenaikan harga sebagai antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan dari salah satu produsen minyak utama dunia.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Maret naik 35 sen atau setara 0,55 persen mencapai level 64,41 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat menguat 33 sen atau 0,56 persen menjadi 59,69 dolar AS per barel.
Kenaikan harga ini terjadi setelah sehari sebelumnya kedua kontrak minyak anjlok sekitar 2 persen pada perdagangan Kamis (22/1). Pembalikan tren ini dipicu oleh pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat memiliki armada yang tengah bergerak menuju Iran, meskipun ia berharap tidak perlu menggunakannya.
Trump juga kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran terkait isu kematian ribuan demonstran dalam gelombang protes baru-baru ini serta kekhawatiran mengenai potensi pengaktifan kembali program nuklir Iran yang sempat dihentikan.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kapal-kapal perang, termasuk kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali, dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang. Pengiriman armada ini menunjukkan keseriusan Washington dalam menghadapi Teheran.
Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC. Negara ini juga menjadi salah satu eksportir utama minyak ke China, yang merupakan konsumen minyak terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Secara mingguan, harga minyak Brent dan WTI diperkirakan mencatatkan kenaikan sekitar 0,6 persen. Penguatan ini menunjukkan sentimen pasar yang responsif terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Sebelumnya, harga minyak sempat menguat di awal pekan menyusul ancaman Trump untuk melakukan invasi ke Greenland yang dinilai berpotensi mengguncang aliansi trans-Atlantik. Namun harga kembali tertekan setelah Trump menarik kembali pernyataannya terkait kemungkinan aksi militer tersebut.
Trump kemudian menyatakan mundur dari ancamannya setelah mengatakan bahwa Denmark dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan yang memungkinkan AS memperoleh akses penuh ke wilayah Greenland tanpa perlu tindakan militer.
Pada saat yang sama, harga minyak sempat melemah menyusul rilis data pemerintah AS yang bersifat bearish atau negatif. Data menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar dunia, mengalami kenaikan pada pekan lalu di tengah perlambatan permintaan bahan bakar domestik.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat melaporkan bahwa stok minyak mentah naik 3,6 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 16 Januari. Kenaikan stok tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi American Petroleum Institute yang sebelumnya hanya mencatat kenaikan sekitar 3 juta barel.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: