Tanggapi Tagar #KaburAjaDulu, Mrs. Mada Latih Kader GMPK Kemas Pesan Program Pemerintah

- Fenomena #KaburAjaDulu, menurut Mrs. Mada, bukan cerminan keengganan pemuda mengabdi, melainkan soal kesiapan negara menyediakan lapangan kerja yang sesuai untuk menarik pulang talenta diaspora.
- Mayoritas mahasiswa Indonesia di luar negeri tetap punya ikatan emosional kuat pada tanah air dan berniat pulang begitu ada kesempatan kerja yang cocok.
- Kader GMPK dilatih mengemas program pemerintah (MBG, Kopdes, Sekolah Rakyat) dengan gaya komunikasi yang membumi agar mudah dipahami dan menangkal disinformasi di kalangan sebaya.
, BOGOR – Narasi pesimisme anak muda di ruang digital yang sempat mencuat lewat tagar #KaburAjaDulu direspons secara jernih dari sudut pandang para diaspora. Sentimen tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan keengganan pemuda untuk mengabdi, melainkan tentang bagaimana negara mampu menyediakan ekosistem yang tepat bagi kepulangan talenta terbaiknya.
Hal itu mengemuka dalam Diklat Pratama Se-Indonesia Angkatan I yang digelar oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026) sore.
Hadir sebagai pemateri Mrs. Mada, seorang akademisi yang juga penerima beasiswa pemerintah di luar negeri, membedah dinamika psikologis diaspora sekaligus memberikan pelatihan komunikasi publik bagi para peserta.
“Menanggapi tagar #KaburAjaDulu yang sempat viral, saya justru selalu mengajak teman-teman yang masih berada di luar negeri untuk kembali dan berkontribusi nyata bagi Indonesia,” ujar Mrs. Mada di hadapan ratusan kader.
Menurutnya, mayoritas mahasiswa Indonesia di luar negeri sebenarnya memiliki ikatan emosional dan rasa cinta tanah air yang sangat kuat untuk pulang. Alasan mereka belum kembali umumnya karena masih mencari kesempatan kerja yang sesuai dengan spesifikasi kompetensi yang mereka kuasai.
“Malahan, kerinduan pada hal-hal sederhana seperti makanan khas rendang sering kali menjadi pemantik utama keinginan mereka untuk pulang,” terangnya.
Mengemas Komunikasi Kebijakan
Selain memotivasi kader lewat perspektif diaspora, Mrs. Mada memanfaatkan sesi sore tersebut dengan metode praktik langsung untuk melatih keterampilan komunikasi para peserta. Kader GMPK diasah untuk mampu menyampaikan informasi secara presisi dengan menyesuaikan karakter dan kebutuhan audiens yang dituju.
Dalam simulasinya, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja untuk memproduksi konten tulisan dan visual. Mereka ditantang untuk secara kreatif mengemas berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah, optimalisasi Koperasi Desa (Kopdes) sebagai motor penggerak ekonomi lokal, hingga akselerasi pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.
Tujuan dari digitalisasi dan lokalisasi konten ini, kata Mrs. Mada, adalah agar para kader mampu menerjemahkan bahasa regulasi pemerintah yang kaku menjadi gaya komunikasi yang segar, membumi, dan dekat dengan bahasa generasi sebaya (peer-to-peer communication).
“Kader GMPK sebagai mitra strategis pemerintah harus mampu menyampaikan informasi yang benar, jelas, dan mudah dipahami masyarakat. Pengemasan pesan yang tepat pada generasi muda akan memastikan program pemerintah dipahami dengan baik tanpa memicu kesalahpahaman,” jelasnya.
Melalui pelatihan praktis ini, Diklat Pratama Angkatan I GMPK tidak hanya membekali kadernya dengan teori makro, tetapi juga keterampilan teknis sebagai jembatan informasi publik.
Kader daerah diharapkan pulang membawa kecakapan sebagai agen literasi yang mampu meluruskan disinformasi dan mengedukasi masyarakat secara persuasif mengenai arah pembangunan nasional.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: