Sering Ngomong Sendiri di Kamar? Psikolog Bilang Itu Kebiasaan Orang Cerdas

- Penelitian terbaru membuktikan berbicara sendiri atau self-talk adalah proses kognitif alami yang meningkatkan konsentrasi, kecepatan pemrosesan informasi, dan kemampuan menemukan objek, bukan tanda gangguan mental
- Self-talk positif terbukti membantu regulasi emosi, mengurangi kecemasan, meningkatkan performa atlet dan siswa, serta mengubah konektivitas area otak yang terkait dengan fungsi kognitif tingkat tinggi
- Praktik self-talk hanya menjadi masalah ketika didominasi pikiran negatif terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan menjadi indikasi gangguan kesehatan mental seperti depresi berat atau OCD
, Kamu pernah ketahuan ngomong sendiri di kamar? Atau mungkin membatin keras saat mencari barang yang ketelingsut? Jangan malu, kamu tidak sendirian.
Hampir semua orang melakukannya. Hanya saja, tidak banyak yang mengaku terang-terangan. Stigma soal berbicara sendiri masih kuat, seakan ini tanda ketidakwarasan.
Padahal riset terbaru justru menunjukkan sebaliknya. Berbicara dengan diri sendiri, atau disebut self-talk, adalah proses kognitif alami yang punya peran penting dalam cara otak bekerja.
Studi yang dimuat dalam Quarterly Journal of Experimental Psychology membuktikan orang yang berbicara sendiri saat mencari barang menemukan objek lebih cepat. Psikolog Gary Lupyan dari University of Wisconsin-Madison dan Daniel Swingley dari University of Pennsylvania menguji partisipan yang diminta mencari benda tertentu. Mereka yang mengucapkan nama benda dengan suara keras lebih cepat menemukannya dibanding yang hanya berpikir dalam hati.
“Berbicara keras saat pikiran tidak melayang bisa jadi tanda fungsi kognitif yang tinggi,” kata Mari-Beffa, peneliti dari studi berbeda yang dimuat Acta Psychologica.
“Alih-alih tanda gangguan mental, ini justru membuat seseorang lebih kompeten secara intelektual,” lanjutnya.
Riset lain dari University of Toronto Scarborough menegaskan hal serupa. Self-talk membantu otak memproses informasi lebih efektif. Ketika seseorang membaca instruksi dengan suara keras, konsentrasi mereka lebih terjaga dan performa tugas meningkat.
Manfaat self-talk tidak berhenti pada peningkatan konsentrasi. Penelitian Ethan Kross dari University of Michigan menunjukkan teknik berbicara pada diri sendiri menggunakan sudut pandang orang ketiga bisa membantu regulasi emosi. Menyebut nama sendiri atau menggunakan kata ganti “kamu” menciptakan jarak psikologis dari pengalaman emosional yang intens.
“Ketika orang melihat diri mereka sebagai orang lain, ini membantu mereka menilai situasi secara objektif,” ujar Kross dalam Journal of Personality and Social Psychology.
Riset terbaru yang dimuat Scientific Reports tahun 2021 bahkan mengungkap perubahan konektivitas otak saat seseorang melakukan self-talk. Studi tersebut menggunakan fMRI untuk mengukur aktivitas jaringan reward-motivation, default mode, dan central-executive saat partisipan mengerjakan tes kecerdasan. Hasilnya, self-talk mempengaruhi cara berbagai area otak berkomunikasi satu sama lain.
Ikhsan Bella Persada, psikolog dari Indonesia, menjelaskan self-talk membantu merefleksikan diri dan mengekspresikan emosi. Aktivitas ini bisa mengurangi kecemasan dan stres yang dirasakan seseorang.
“Melakukan self-talk dapat membantu kita sehat secara mental dan berpikir lebih positif,” katanya kepada KlikDokter.
Survei di Iran selama pandemi COVID-19 menunjukkan orang yang melakukan positive self-talk punya tingkat kecemasan lebih rendah. Mereka juga lebih mampu mengembangkan strategi menghadapi emosi dan mengendalikan gejala gangguan kesehatan mental.
Atlet profesional sudah lama memanfaatkan teknik ini. Penelitian tahun 2020 membuktikan self-talk positif meningkatkan kepercayaan diri, harga diri, dan performa saat bertanding. Teknik yang sama ternyata bisa diterapkan di berbagai profesi lain.
Anak-anak yang menggunakan afirmasi positif saat belajar mengalami peningkatan hasil belajar. Atlet pemula lebih cepat menguasai keterampilan baru ketika mereka memberikan instruksi verbal pada diri sendiri.
Psikolog Rusia Lev Vygotsky sudah memprediksi ini sejak dekade 1930-an. Dia mengamati anak-anak berbicara sendiri saat mengerjakan tugas dan menyimpulkan ini adalah tahap penting dalam perkembangan mental. Seiring waktu, percakapan dengan diri sendiri yang terucap berubah menjadi inner speech yang membisu di masa dewasa.
Vygotsky percaya self-talk punya peran aktif dalam fungsi mental. Peneliti Charles Fernyhough kemudian membuktikan inner speech mendukung berbagai fungsi kognitif, termasuk pemecahan masalah dan memori kerja.
Yang menarik, self-talk sering muncul secara intuitif saat seseorang bergerak atau berjalan. Bukti ilmiah menunjukkan gerakan meningkatkan kemampuan berpikir dan belajar. Keduanya diaktifkan di pusat kontrol motorik yang sama di otak.
Tidak semua self-talk membawa manfaat. Psikolog mengingatkan masalah muncul ketika dialog internal didominasi pikiran negatif yang terus-menerus. Dalam kondisi ekstrem, ini bisa menjadi indikasi gangguan kesehatan mental seperti depresi berat, OCD, PTSD, atau skizofrenia.
Katie Alpin dari lembaga amal kesehatan mental di Inggris menyarankan mengubah pola self-talk negatif menjadi positif. Tapi bukan dengan cara yang tidak realistis.
Alih-alih mengganti kalimat “saya payah dalam hal ini” menjadi “saya yang terbaik”, lebih baik fokus pada pernyataan positif yang tetap realistis. Misalnya, “kesalahan ini bisa jadi pembelajaran untuk saya.”
Penelitian terbaru di tangselxpress.com mencatat 559 artikel ilmiah tentang self-talk diterbitkan antara 1978 hingga 2020. Jumlahnya terus meningkat setiap tahun. Ini menunjukkan minat ilmiah yang serius terhadap fenomena yang dulu dianggap aneh.
Ironisnya, banyak lingkungan kerja dan belajar justru tidak memberi ruang untuk aktivitas kognitif alami ini. Perkembangan teknologi yang membuat komunikasi verbal tampak tidak perlu juga jadi hambatan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: